Tuesday, January 10, 2017

book review: Critical Eleven

Sedikit intro tentang Ika Natassa. Buku-buku Ika Natassa sudah lama saya dengar. Beberapa teman pernah merekomendasikan, namun entah kenapa saya belum tertarik untuk membaca bukunya. Mungkin karena genrenya "chicklit" or "metropop" yang membuat saya berasumsi kalau jalan ceritanya ya begitu, ada laki-laki dan perempuan, konflik cinta-cintaan, dan akhir happy ending. Begitu kan umumnya kemasan chicklit? Dulu saya belum tertarik.

Hingga 2 tahun lalu, keinginan untuk membaca buku chicklit tiba-tiba muncul. Saat itu buku Antologi Rasa versi Illustrated Edition baru terbit dan Ika Natassa sendiri yang buat ilustrasinya. Menarik. Akhirnya saya beli buku Ika Natassa pertama saya. Setelah membaca Antologi Rasa, saya akhirnya mengerti kenapa banyak teman dan orang yang suka dengan cerita-cerita Ika.

Sama juga dengan Critical Eleven. Sudah lama lihat berseliweran di timeline dan toko buku, sudah masuk juga dalam daftar buku yang ingin dibeli. Entah kenapa prioritasnya masih di bawah buku-buku lain. Padahal saya suka dengan premis bukunya. Saya sendiri suka dengan bandara. Beberapa kali bikin cerita dengan setting bandara, tapi belum ada yg kelar. Hahaha. 

Sampai akhirnya saya menemukan aplikasi iJakarta. Senang banget waktu buku Critical Eleven muncul di halaman pertama. Pucuk dicinta ulam tiba!

Kesan pertama baca Critical Eleven: multi POV again? Apa semua buku Ika Natassa multi POV? (Beberapa waktu lalu saya baru tahu kalau Antologi Rasa adalah buku pertama yang multi POV dan Critical Eleven adalah yang kedua). Seperti Antologi Rasa (dan mungkin buku-bukunya yang lain), cerita Critical Eleven mengalir enak dibaca. Ikut larut dalam penggalan-penggalan romantis antara Ale dan Anya yang bikin senyum-senyum sendiri. Humor, sarkasme, beserta bahasa dan bahasan urbannya seperti sedang mendengar teman sendiri yang langsung bercerita. Dan tentu saja bagian New York!

Paris has its light, Rome its crooked alleys, London its misty Thames. But nowhere is as breathlessly romantic as New York City.

Oh we all have a thing for the concrete jungle, yes?

Dengan karakter Ale dan Anya yang digambarkan hampir sempurna (ganteng-cantik, kaya, dan mapan), cerita mereka hampir seperti too good to be true. Maybe we are all longing for what Ale and Anya have, and Ika gave what we want in a story. Gaya cerita yang banyak flashback kadang bikin bingung dengan timeline cerita kalau bacanya tidak teliti. Ketika saya memulai baca buku ini, saya tidak membaca blurp yang ada di kover belakang. 'Tragedi besar' Ale dan Anya jadi kejutan tersendiri buat saya. Pengungkapan detailnya yang perlahan, jadi salah satu alasan untuk terus membuka halaman demi halaman.
Sebelas menit yang paling kritis di dalam pesawat, yaitu tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing...it's kinda the same meeting people. Tiga menit pertama saat bertemu seseorang itu kritis sifatnya dari segi kesan pertama...And then there's the last eight minutes before you part with someone..delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.
Tapi saya merasa konflik utama cerita agak tidak nyambung dengan premis Critical Elevennya. I mean, they are what they are right now. Based on those eleven minutes, they already made a decision. So, they already passed the eleven minutes critical moment, amirite?

(Pembaca kok banyak protesnya, bikin cerita sendiri gih *toyorkepalasendiri*)  
...expectation is the root of all disappointments.
Just as what she mentioned, mungkin saya menyimpan banyak ekspektasi terhadap buku ini sehingga banyak protesnya. Put the expectations aside, this book is entertaining and a well-told story. 

Tentang filmnya yang akan muncul nanti, belajar dari bukunya, saya tidak akan menyimpan ekspektasi apa-apa. Lihat dari posternya sih bagian New York ada ya. Atau bisa jadi ceritanya akan berbeda dibanding bukunya (Surprise me, Jenny Jusuf!). Kalau ditanya siapa yang pantas berperan sebagai Ale dan Anya, melihat penggambaran karakter mereka, tentu saja: Dian Sastro dan Nicholas Saputra! Hahahahaha #anak90an. But seriously, memang ga ada yang lain ya selain Reza? 


Sunday, January 08, 2017

2016

  
Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk ngisi blog ini lagi. Tahun 2016 kemarin saya menyiapkan satu toples Happy Jar, untuk mengumpulkan momen-momen bahagia di 2016. Setelah tadi saya lihat, dikit banget yaaa isinyaaa :( Apakah saya ga bahagia di 2016? Masa sih? Setelah dibaca-baca isinya ada momen bulan Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, dan.... Desember. Hahahaha...ketauan banget lupa dari bulan Juli kalau ada Happy Jar dan inget lagi pas udah akhir tahun :P 

Anyway, mumpung masih fresh nih tahun barunya, highlight untuk tahun 2016:
  1. Si anak kicik lulus ASIX! Yeyeyeyeye! Sebagai ibu-ibu yang ASInya segitu-gitu aja (ga kayak ibu-ibu sebelah yang berbotol-botol), lulus ASIX ini udah alhamdulillah banget. Mungkin ada orang-orang yang ga percaya dengan jumlah ASI yang seperti ini bisa lulus ASIX. Untuk ibu-ibu di luar sana yang senasib, jangan bersedih! Terus berusaha dan pantang menyerah! You can do it!
  2. Anak kicik makin gedeee dan makin pinteer. Selalu berusaha untuk menangkap momen-momennya dengan foto/video tapi kadang memang lebih baik melihatnya dengan mata kepala sendiri :)
  3. Target baca buku tercapai! Mantap kaan? Salah satu pendorongnya adalah resolusi saya tahun ini terkait buku: membeli buku baru setelah selesai membaca tiga buku which is langsung gagal gara-gara ada Big Bad Wolf Book Sale. Tadinya sebelum datang ke BBW ini masih tetep berpegang pada resolusi tapi setelah lihat buku-bukunya, the hell with that! I'm buying these books!!! Hahahahahaha. Well, selain itu saya juga menyesuaikan resolusi dengan keadaan sekarang, dari target 36 buku jadi 12 buku aja. Mencoba realistis.
  4. Karena selama 2016 ini saya banyak main di Instagram, saya jadi lebih tercerahkan tentang dunia skin care dan make up (still writing a draft about this). Dan setelah bertahun-tahun bergelut dengan bibir kering, akhirnya saya menemukan solusinya: Sebamed Lip Care. Di suatu artikel yang saya baca, katanya salah satu penyebab bibir kering karena terpapar sinar matahari, jadi pakailah pelembab bibir yg berSPF. And it works! Masih ada kering-kering dikit sih but it's much much better! Pulasannya juga ga terlalu bikin bibir berminyak seperti makan gorengan. Love!
  5. Karena anak kicik udah mulai bisa jalan, sekarang biasanya tiap weekend cari-cari tempat main yang toddler-friendly. Sekitar rumah ada beberapa tempat yang oke buat hiburan keluarga seperti, Scientia Square Park, The Breeze, Taman Kota, dan hari ini baru tau kalau di Bintaro Xchange ada ruang terbukanya juga (kemane ajeee). Seneng deh banyak alternatif tempat main selain ke mall.
  6. Akhirnya setelah 8 tahun saya ganti kacamata juga! Sebenarnya dari sebelum hamil udah pergi ke dokter untuk minta resep mata tapi beli kacamatanya ketunda terus. Sampai harus minta resep lagi karena yang sebelumnya udah hilang. Hahaha.
Not a bad year, eh? Alhamdulillah.

Untuk resolusi tahun ini masih sama seperti tahun lalu, untuk target buku minimal 12 buku terbaca. 
Untuk beli buku baru sepertinya nanti nunggu BBW ada lagi aja hahaha. Semoga ada lagi ya Allah! Amiin.
Diracuni ibu baru ini, saya tambah resolusi yang baru, memberi kesempatan kedua untuk memakai planner, an attempt for documenting moments or plans or small thoughts. Semoga bisa lebih konsisten.
Menimbang-nimbang untuk memberi wajah baru ke blog ini. Semoga tidak kehilangan momennya.

Cheers for a better year!

Sunday, November 20, 2016

The Unknown Heroes


Who are they? They are the story writer of the film series!

Randomly browsing Instagram, I often found many quote posts from film series. Then I realized, people keep quoting from fictional characters. Why only the characters who always get the credits? Who's behind them? Who created them? Of course, the storywriter! Hellooo.

Some lists from the series that I fond of:
Friends - David Crane and Marta Kauffman
Gilmore Girls - Amy Sherman-Palladino (in the early series. Thank you for the revival!)
That's 70 Show - Bonnie Turner, Terry Turner, Mark Brazill
Grey's Anatomy - Shonda Rhimes
Prison Break - Paul Scheuring
The Big Bang Theory - Chuck Lorre, Bill Prady
Newsroom - Aaron Sorkin

So, here, I would like to thank the people who made my life so fun! Thank you for all tears and laughters! Love you all!

Sunday, November 13, 2016

The battle


Sebagai seorang pembaca buku, perseteruan antara buku virtual dan buku fisik selalu ada. Saya selalu memilih buku fisik karena lebih menyenangkan. Pengalaman memilih-milih cover, membuka halaman demi halaman, melihat buku bertumpuk atau berdampingan itu me-nye-nang-kan.

Tapi perkembangan teknologi selalu berkembang dan terus berusaha memenuhi kebutuhan para konsumen bandwidth. Beberapa kali saya mencoba untuk membaca buku virtual (Tidak, saya berusaha tidak mengkhianatimu, oh, tumpukan-buku-yang-tidak-pernah-habis). Pertama, lewat iBook di iPad. Hanya mencoba membaca buku-buku gratis, biasanya buku-buku sastra klasik luar. Beberapa buku diunduh tapi tidak ada yang selesai dibaca.

Kedua, lewat aplikasi Bookmate. Awal tahu ada Bookmate, karena ada SMS promo dari Indosat. Hahaha. Lumayan bisa baca gratis selama sebulan. Cicip, cicip, secara koleksi, ada buku dalam dan luar negeri. Sayang, secara user experience, aplikasinya kurang smooth. Beberapa kali nemu bug. Mungkin sekarang sudah lebih baik lagi. Secara reading experience, melelahkan. Membaca huruf-huruf kecil berdempet dari layar ukuran kurang dari 5 inchi bukan cara yang bagus untuk menjaga kesehatan mata. Jadi terpikir Kindle yang punya layar berbeda dan (katanya) tidak membuat mata lelah (Tidak, saya tidak mengkhianatimu, oh, tumpukan-buku-yang-tidak-pernah-habis). Akhirnya saya hapus aplikasinya.   

Sedikit bosan baca buku, saya menjajal Scoop. Saya membaca....majalah. Dari ponsel saya yang berukuran kurang dari 5 inchi itu. Egh. Swipe-Zoom in-Drag leftrightleftright-Zoom out-Swipe. Egh. Kurang kerjaan. Saya hapus aplikasinya setelah membaca majalah itu.

Hingga suatu hari, di feed instagram saya, ada repost dari sebuah akun buku, seseorang yang membaca buku dari aplikasi iJakarta. Aplikasi apa lagi nih? Iseng-iseng install dan halaman pertama di daftar koleksinya ada....Critical Eleven! Wait, what? Serius nih bisa dibaca? Itu salah satu buku yang ingin saya baca tapi masih berat hati untuk membeli bukunya. Buku itu langsung dipilih dan ternyata di iJakarta sistemnya seperti perpustakaan. Kita bukan membeli buku tapi meminjam. Waktu pinjaman selama 3 hari. Jika buku habis dipinjam, kita bisa antri untuk meminjam buku tersebut dan akan diberitahu kalau buku tersebut sudah available. Menarik sekali kan? Selain pinjam, kita juga bisa donasi.Tapi...saya belum pernah coba :D Bilang aja pelit.


Secara koleksi, iJakarta cukup oke dibanding aplikasi-aplikasi lain. Meskipun koleksinya hanya berisi buku dalam negeri dan terjemahan. Dari Ika Natassa sampai Okky Madasari. Dari Boim Lebon sampai Sapardi Djoko Damono. Dari Agatha Christie sampai Neil Gaiman! Bahkan seri buku Tokoh Tempo pun ada. Tinggal nunggu seri Sastra Dunianya KPG nih. Kemarin saya senang karena yang tadinya hanya iseng cari buku #Girlboss-nya Sophia Amoruso, ternyata ada! Langsung saya kebut baca hanya dalam 3 hari. Haha. Memang tidak semua koleksi buku penulis-penulis itu ada di iJakarta, tapi lumayanlah kalau mau coba cicip-cicip buku yang masih setengah hati ingin dibeli. (Saya tidak mengkhianatimu, tumpukan-buku-yang-tidak-pernah-habis! Jangan baper deh.)

Secara user experience, aplikasi masih ada bug-bugnya sedikit tapi masih termaafkan. Secara reading experience, memang melelahkan lihat layar ponsel itu. Tapi pakai aplikasi di ponsel, membaca jadi mudah sekali. Saya bisa baca waktu pompa asi, waktu ngelonin anak, atau waktu break di kantor tanpa terlihat terlalu santai membaca buku. Hahaha. Yah, akhirnya supaya tidak terlalu lelah mata, harus sering mengistirahatkan mata atau memberi jeda waktu baca antar buku.

Jadi, tumpukan-buku-yang-tidak-pernah-habis, saya tidak mengkhianatimu. Saya hanya menambah tumpukan-buku-virtual-yang-tidak-pernah-habis!

Friday, September 02, 2016

book review: Lelaki Harimau

Yay, selesai baca satu buku lagi!

Kalau dihitung dari awal tahun, sampai saat ini sudah selesai 9 buku dari target......36 buku. *sigh*

Ok, saatnya realistis: 12 buku aja lah. Dengan waktu 4 bulan yang tersisa, sepertinya cukup feasible untuk baca 3 buku lagi. *cari buku-buku tipis*

***

Nama Eka Kurniawan sebenarnya sudah lama saya dengar. Lelaki Harimau, Cantik Itu Luka, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, O, sudah sering berseliweran di depan mata saya. Banyak review yang merekomendasikan buku-buku Eka tapi entah kenapa saya tidak terlalu tergerak untuk mulai membaca. Akhirnya memutuskan untuk mencecap Lelaki Harimau pun karena termasuk dalam long list Man Booker Prize 2016.

Well, that book must be good, pikir saya.

Dan memang, mereka tidak salah.

Lelaki Harimau ditulis sebagian besar dalam bentuk narasi, minim dialog. Hal yang jarang terjadi di buku-buku yang pernah saya baca. Meskipun minim dialog, tapi cerita mengalir dengan lancar. Menariknya, Eka menuliskan ceritanya seperti lapis per lapis. Diberikannya sedikit demi sedikit lapisan cerita kepada pembaca, yang membuat pembaca menjadi penasaran akan menjadi apa lapisan-lapisan itu.

Alur cerita dibuat maju dan mundur dengan banyak menceritakan latar belakang masing-masing tokoh. Kadang saya lupa tentang harimau yang menjadi judul buku ini. Bahkan harimaunya pun hanya sepersekian porsinya dari cerita. But still, catchy title.

Ada sedikit 'kecelakaan' waktu saya baca buku ini. Saya membuka halaman terakhir, ternyata klimaksnya di sana. Hahahaha. Tapi tidak membuat saya berhenti membaca. Saya kagum dengan diksi Eka. Banyak kalimat yang membuat saya bertanya-tanya apakah Eka menulisnya dengan lancar atau sengaja memilih-milih dari kamus. Kata-kata yang dirangkai dalam kalimat baru yang belum pernah saya baca. Penuh perumpaan tanpa terasa berlebihan. Tidak heran dengan keahliannya ini, ia disebut sebagai Pramoedya selanjutnya.