...
Ruangan oval itu terasa panas meski pendingin sudah dinyalakan. Suara pria berdasi yang berbicara di ruangan hanya terdengar sayup-sayup oleh Ra. Pikirannya bukan di meeting ini. Tangan kirinya terus dimasukkan ke dalam saku blazer, memegang ponsel yang dia inginkan untuk bergetar. Kaki kanannya mengetuk-ngetuk karpet. Sesekali melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
New Message Received From: ...
Jantungnya kembali berdegup kencang. Ra melihat ke arah jam lalu ke arah pembicara. Mulutnya komat-kamit tanpa Ra memperhatikan terhadap apa yang dibicarakan.
“Hei...” Ra meletakkan dokumennya di meja lalu berjalan ke arah jendela.
“Ga kerja?”
“Kerja. Abis meeting tadi,” tangan kanannya memangku tangan kiri yang memegang ponsel, “Udah di bandara?”
Ra memandang ke luar jendela, ke arah langit yang mendung.
“Udah.”
“Ohh..”
“Pesawat jam berapa?”
“Jam empat. Kan udah di-sms tadi.”
“Oh iya…” Ra menepuk keningnya. Stupid.
“Pamit ya…maafin atas semua kesalahan...”
“Iya..kenapa harus minta maaf?”
“Ya ga pa-pa. Pengen aja.”
Lalu hening. Ra memperhatikan gedung-gedung yang sedang dibangun. Pekerja-pekerja bergelantungan di beton-beton tinggi.
“Eh, belajar yang bener. Jangan lupa balik untuk membangun bangsa ini! Hehehehe..”
“Hehehehe...Siap, Bu!”
Hening kembali tercipta. Hanya terdengar hela napas di seberang sana.
“Kamu juga. Kerja yang bener. Jangan keseringan lembur. Jaga kesehatan. Jangan lupa makan!”
“...”
Airmata mulai menggenangi mata Ra. Lehernya tercekat, tak sanggup untuk berkata. Ia melepas kacamatanya. Pandangan gedung-gedung di hadapannya menjadi kabur dan airmata membuat lebih kabur lagi.
“Ra?”
“…ya?” suaranya terdengar sedikit serak.
“Kamu...nangis?”
Matanya tak sanggup menahan. Satu bulir air mata jatuh.
“Hm? Engga kok...sok tau,” tangan kanannya mengusap air mata di pipi, “kenapa juga harus nangis?” jawabnya disertai tawa kecil. Berusaha mengembalikan suaranya senormal mungkin.
Yea..why should i cry, you stupid man...
“Kirain...”
“Jangan lupa bawa oleh-oleh.”
Terdengar tawa di seberang sana.
“Hati-hati, ya, disana.”
“ya..you, too.”
“see you, Ra.”
“see you...”
Tidak ada yang memutuskan hubungan telpon. Keduanya terdiam, seakan ingin berkata tetapi tidak ada yang terucap.
“bye, Ra.”
Orang yang di seberang memutuskan telpon.
Hanya itu?
Airmatanya kembali mengalir. Ra menatap ke bayangan dirinya di kaca jendela. Memandang matanya yang memerah.
home
|